• Firaun dari Kerajaan Panjalu Kediri

    Ialah Sri Maharaja Kertajaya ialah raja paling akhir Kerajaan Kediri (atau Kerajaan Panjalu) yang menyuruh pada 1194-1222. 

     

    Kerajaan ini beribukota di Daha (Dahanapura) yang terdapat di pinggir Sungai Brantas, dengan lokasi kekuasaan mencakup Madiun serta daerah sisi barat Kerajaan Medang Kamulan. 

     

    Berita mengenai Kerajaan Kediri sejumlah besar pun didapat dari berita China. Berita China ini adalah himpunan narasi dari beberapa pedagang China yang lakukan pekerjaan perdagangan di Kerajaan Kediri. 

     

    Seperti Kronik China bernama Chu fan Chi karangan Chu ju kua (1220 M). Buku ini banyak ambil narasi dari buku Ling wai tai ta (1778 M) karangan Chu ik fei. Ke-2 buku ini menjelaskan kondisi Kerajaan Kediri pada era ke-12 serta ke-13 Masehi. 

     

    Bukti riwayat kehadiran tokoh Kertajaya yang disebut raja paling akhir Panjalu Kediri yaitu dengan ditemukannya Prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), Prasasti Palah (1197), serta Prasasti Wates Kulon (1205). 

     

    Dari prasasti-prasasti itu bisa didapati nama titel Abhiseka Kertajaya ialah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa. 

     

    Nama Kertajaya pun ada dalam Kakawin Nagarakretagama (1365) kitab sastra yang dikarang beberapa ratus tahun sesudah jaman Kerajaan Kediri oleh Empu Prapanca seseorang tokoh agama di Istana Majapahit. 

     

    Sedang dalam Kitab Pararaton, Kertajaya dinamai Prabu Dandhang Gendis. 

    Konon dengan kesaktiannya, Prabu Dandhang Gendis dapat duduk diatas tombak tajam yang berdiri tiada terluka dikit juga. 

     

    Diceritakan pada pemerintahannya Prabu Dandhang Gendis mengatakan, dianya dewa serta ingin disembah beberapa pendeta Hindu serta Buddha seperti Firaun dalam waktu Nabi Musa AS yang mengakui menjadi Tuhan. Rakyat juga diminta menyembahya, buat yang tidak menurut akan dibunuh. 

     

    Tindakan sang Prabu Kertajaya yang mengakui menjadi tuhan itu lalu ditentang oleh golongan pemuka agama. Beberapa brahmana juga menampik ketuhanan Kertajaya. 

     

    Penolakan pada pernyataan Raja Kertajaya nyatanya menyebabkan jelek buat beberapa brahmana, mereka disiksa dengan kejam, buat yang mengaku ketuhannya akan dibebaskan dari hukuman. Sesaat buat yang tidak mengaku akan disiksa sampai mati. 

     

    Merasakan tingkah laku rajanya yang telah menyimpang kewajaran, beberapa brahmana lalu pilih menyingkir dari Kota Daha, sekalian mengatakan kesesatan Prabu Kertajaya pada semua Rakyat Kerajaan yang ditemuinya. 

     

    Pada saat itu Raja Kertajaya sesumbar jika dianya cuma dapat ditaklukkan oleh Dewa Siwa. 

    Bersamaan dengan itu, di Tumapel beredar berita jika Tunggul Ametung seseorang Akuwu Tumapel, Adipati bawahan Kerajaan Kediri yang setia pada Raja Kertajaya dibunuh oleh Prajuritnya yang bernama Ken Arok. 

     

    Ken Arok lalu menggantikan Tumapel menukar Tunggul Ametung serta mengakui menjadi titisan Dewa Siwa. 

     

    Merasakan itu, beberapa brahmana yang awal mulanya terpencar-pencar hindari kejaran Kerajaan Kediri bersama-sama minta perlindungan pada Ken Arok. 

     

    Ken Arok dengan keahliannya manfaatkan keadaan, ia lantas mencari simpati beberapa brahmana, serta janji jika akan lakukan pemberontakan pada Raja Kediri Kertajaya yang mengakui dewa atau tuhan. Ken Arok pun janji akan menaklukan Raja Kertajaya. 

     

    Lalu beberapa Brahmana menganugrahi titel pada Ken Arok dengan Titel Batara Guru. Mulai sesudah itu Ken Arok diputuskan oleh beberapa brahmana menjadi perwujudan atau titisan dewa. 

     

    Titel Batara Guru itu dipercaya menjadi usaha pemberian keyakinan pada Ken Arok, sebab pada saat itu Raja Kertajaya sesumbar jika dianya cuma dapat ditaklukkan oleh Dewa Siwa. Seperti didapati jika Batara Guru adalah nama lainnya dari Siwa. 

     

    Sesudah beberapa Brahmana memberi suport penuh pada Ken Arok, diangkatlah lalu Ken Arok jadi Raja Tumapel yang merdeka dari Kerajaan Kediri. Sesaat beberapa brahmana setelah itu memengaruhi rakyat supaya memberontak bersama Ken Arok menantang Kediri. Rakyat lalu bersama-sama menolong Ken Arok untuk menaklukkan Kediri. 

     

    Lihat Tumapel membangkang, jadi Raja Kertajaya mengirim pasukannya untuk menyerang daerah itu. Tumapel digempur habis-habisan oleh Pasukan Kerajaan Kediri. 

    Akan tetapi sebab Tumapel di dukung beberapa brahmana serta rakyat, jadi serangan untuk serangan Kediri bisa ditumpas. 

     

    Tetap mendapatkan kemenangan dari tiap-tiap pertarungan, Tumapel yang di dukung rakyat lalu bergantian menyerang balik Ibukota Kerajaan Kediri. Ibu Kota Kerajaan Kediri juga pada akhirnya bisa diambil serta dalam pertarungan paling akhir konon Ken Arok sukses membunuh Prabu Kertajaya. 

     

    Sesudah Ibukota Kediri bisa ditaklukan jadi dengan automatis semua sisa lokasi Kerajaan Kediri masuk pada kekuasaan Tumapel. Ken Arok lalu merubah nama kerajaannya dengan nama Singasari. 

     

    Sesudah itu posisi Kediri yang sebelumnya jadi pusat kerajaan bertukar jadi Keadipatian bawahan Singasari. Meski begitu, Ken Arok mengusung anak Raja Kertajaya yakni Jayasbaha menjadi penguasa Kediri setelah itu. 

     

    Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama Sastrajaya. Lalu tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama Jayakatwang. Nantinya Jayakatwang atau adipati Gelang-gelang ini lalu lakukan pemberontakan pada Singasari serta dalam pemberontakan itu Jayakatwang bisa menaklukan Singasari, serta untuk setelah itu ia menghidupkan kembali Kerajaan Kediri.


  • Comments

    No comments yet

    Suivre le flux RSS des commentaires


    Add comment

    Name / User name:

    E-mail (optional):

    Website (optional):

    Comment: